Menu

Mode Gelap
Jelang persib vs persija Polda jabar turunkan pasukan 3.000 personel,siap amankan El Clasico. Tekankan Profesionalitas dan Pelayanan Prima, Kapolres Badung Pimpin Sertijab Sejumlah Pejabat Utama Penjualan Tramadol Ilegal di Sukajadi Terang-terangan, Keberadaan Polrestabes Kota Bandung Dipertanyakan Mengaku Sudah Berkoordinasi dengan Polrestabes Kota Bandung, Penjualan Tramadol di Dalam terminal Setasion Pasar Baru, Aman Berjualan dan Cemarkan Institusi Kepolisian Pembinaan dan Kebersamaan Warnai Kunjungan Ketua DPD GRIB Jaya Jabar di Subang Pemilihan Ketua RW 05 Desa Pandansari Berlangsung Aman dan Lancar

Berita

Di Balik Retorika Pembangunan, Rumah Reyot Ini Masih Bertahan

badge-check


					Di Balik Retorika Pembangunan, Rumah Reyot Ini Masih Bertahan Perbesar

Di Balik Retorika Pembangunan, Rumah Reyot Ini Masih Bertahan

Cianjur,mitrapolri.info-Di tengah gencarnya jargon pembangunan dan pengentasan kemiskinan, sebuah rumah berdinding anyaman bambu masih berdiri rapuh di Kampung Cisarua, RT 01 RW 04, Desa Sukaraharja, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kondisi rumah tersebut menjadi ironi nyata atas janji kesejahteraan yang terus digaungkan.

Atap genteng yang usang, tiang penyangga yang nyaris roboh, serta lantai tanah yang lembap menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menyentuh masyarakat di lapisan terbawah. Rumah itu dihuni oleh Ruhyati (60), seorang janda yang tinggal seorang diri, dan hingga kini belum tersentuh bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Rumah reyot tersebut bukan sekadar bangunan tua, melainkan cerminan lemahnya pendataan dan penyaluran bantuan sosial. Di saat anggaran perbaikan rumah terus dikucurkan dan laporan keberhasilan dipublikasikan, masih ada warga yang hidup dalam kondisi yang mengancam keselamatan dan kesehatan.

Ironisnya, rumah-rumah dengan kondisi ekstrem kerap hanya menjadi objek pendataan sementara—difoto, dicatat, lalu tak kunjung mendapat tindak lanjut. Bantuan pun dinilai sering tidak tepat sasaran, meninggalkan warga yang paling membutuhkan dalam keterbatasan.

Setiap musim hujan tiba, ancaman semakin nyata. Atap bocor, lantai becek, dan risiko bangunan roboh menjadi keseharian yang harus dihadapi Ruhyati. Kondisi ini tidak hanya menyangkut kelayakan hunian, tetapi juga menyentuh hak dasar warga negara untuk hidup aman dan bermartabat.

Ruhyati berharap ada perhatian serius dari pemerintah.

“Saya hanya berharap rumah ini bisa diperbaiki agar tidak membahayakan,” ujarnya.

Pemerintah desa hingga pemerintah daerah diharapkan segera melakukan peninjauan langsung serta verifikasi ulang data penerima bantuan RTLH. Tanpa langkah nyata, jargon pembangunan berisiko hanya menjadi slogan, sementara warga miskin terus hidup dalam bayang-bayang bahaya.

Rumah reyot ini berdiri sebagai saksi bisu: bahwa di balik hiruk-pikuk pembangunan, masih ada warga yang tertinggal dan terabaikan.

Dion

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jelang persib vs persija Polda jabar turunkan pasukan 3.000 personel,siap amankan El Clasico.

13 Januari 2026 - 14:52 WIB

Tekankan Profesionalitas dan Pelayanan Prima, Kapolres Badung Pimpin Sertijab Sejumlah Pejabat Utama

13 Januari 2026 - 14:49 WIB

Penjualan Tramadol Ilegal di Sukajadi Terang-terangan, Keberadaan Polrestabes Kota Bandung Dipertanyakan

12 Januari 2026 - 09:21 WIB

Mengaku Sudah Berkoordinasi dengan Polrestabes Kota Bandung, Penjualan Tramadol di Dalam terminal Setasion Pasar Baru, Aman Berjualan dan Cemarkan Institusi Kepolisian

12 Januari 2026 - 07:45 WIB

Pembinaan dan Kebersamaan Warnai Kunjungan Ketua DPD GRIB Jaya Jabar di Subang

11 Januari 2026 - 09:36 WIB

Trending di Berita