Warga Soroti Sisa Saldo BUMDes Sukajadi Mandiri Rp4 Juta, PJS Kades Sebut Laporan Keuangan Belum Dapat Diterima
Cianjur,mitrapolri.info– Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukajadi Mandiri di Desa Sukajadi, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, menjadi sorotan masyarakat setelah saldo kas BUMDes dikabarkan hanya tersisa sekitar Rp4 juta dari penyertaan modal sebesar Rp248 juta yang bersumber dari 20 persen Dana Desa Tahun Anggaran 2025.
Menanggapi hal tersebut, Penjabat Sementara (PJS) Kepala Desa Sukajadi yang juga menjabat sebagai Kasi Trantib Kecamatan Cibinong, Eman, membenarkan adanya keluhan warga terkait pengelolaan dana BUMDes.
“Mengenai pengelolaan penyertaan modal BUMDes tahun 2025, kami dari pihak pemerintah desa memang sudah menerima laporan keuangan dari Ketua BUMDes. Namun laporan tersebut belum bisa kami terima karena masih terdapat sejumlah hal yang menurut kami belum rasional dan perlu penjelasan lebih lanjut,” ujar Eman kepada awak media, Jumat (24/7/2026).
Ia menjelaskan, penyertaan modal sebesar Rp248 juta direalisasikan untuk dua unit usaha, yakni pembesaran ayam broiler dan budidaya ikan.
“Yang menjadi perhatian saat ini adalah usaha pembesaran ayam broiler. Untuk penjelasan teknis terkait pelaksanaannya, silakan dikonfirmasi langsung kepada Ketua BUMDes,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua BUMDes Sukajadi Mandiri, Nurwaridah, menjelaskan bahwa berkurangnya saldo kas dipicu oleh membengkaknya biaya operasional usaha ayam broiler.
Menurutnya, rencana awal pemeliharaan 1.500 ekor ayam broiler hanya berlangsung selama 40 hari dengan kebutuhan modal sekitar Rp36 juta. Namun dalam pelaksanaannya, masa pemeliharaan berlangsung hingga sekitar 90 hari atau 13 minggu.
“Akibat masa pemeliharaan yang jauh lebih lama, biaya pakan meningkat signifikan. Modal yang semula diperkirakan sekitar Rp36 juta membengkak menjadi lebih dari Rp86 juta. Selain itu, tingkat kematian ayam mencapai lebih dari 700 ekor sehingga hasil penjualan tidak mampu menutup biaya operasional,” jelas Nurwaridah.
Saat ditanya mengenai tingginya biaya pakan meski jumlah ayam berkurang akibat kematian, Nurwaridah menjelaskan bahwa kebutuhan pakan meningkat seiring bertambahnya ukuran ayam.
“Ya, ayam makin besar makin banyak juga makannya,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa terdapat sejumlah pengeluaran di luar Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang turut memengaruhi kondisi keuangan BUMDes.
“Selain biaya pakan, ada pengeluaran yang tidak masuk dalam RAB, seperti biaya konsumsi saat kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) dari desa, kecamatan, maupun DPMD. Pengeluaran tersebut ikut membebani keuangan BUMDes,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, persoalan tersebut masih menjadi perhatian masyarakat. Pemerintah Desa menyatakan akan melakukan penelaahan lebih lanjut terhadap laporan keuangan BUMDes sebelum memberikan persetujuan atau mengambil langkah lanjutan sesuai ketentuan yang berlaku.
(Hikman)










